Tahun 1999 sekitar bulan Februari, Saat itu saya masih semester VII, saya termasuk mahasiswa yang lalai kuliah karena sebagian teman saya sudah pada lulus dan menyandang gelar Ahli Madya Komunikasi ( A.Md ), hanya tinggal beberapa orang saja yang harus membuat Tugas Akhir tentunya harus melewati Praktek Kerja Lapangan ( Practical Training ) setelah itu sayapun akan menamatkan kuliah saya di Diploma III Komunikasi UGM.
Awalnya saya tertarik ke Malaysia bukan karena alasan PKL, akan tetapi saya ingin melihat dunia di luar Indonesia, saya baru mampu pergi ke negara jiran kebetulan ada sepupu ibu disana. Mulailah saya menyurati Radio Televisyen Malaysia, waktu itu masih memakai jasa Pos Indonesia, dan surat balasan dari Malaysiapun sampai ke Biro Akademik Fakultas Sosial Politik, saya meminta rekomendasi kepada pak Ngurah kebetulan waktu itu yang menjabat direktur D III Komunikasi UGM, kemudian minta tanda tangan pak Yahya Muhaimin, beliau adalah Dekan FISIP UGM waktu itu.
Setiba di Kuala Lumpur dimana saya hanya dapat Student Visa 3 bulan, saya mula mula berkunjung ke rumah sepupu ibu saya, Almarhumah Miharnawati saya panggil beliau etek ( bibi ), meninggal akibat kanker payudara dan di makamkan di Wangsa Maju, Kuala Lumpur, beliau dan suami beliau masih warganegara Indonesia waktu itu masih berstatus penduduk tetap ( IC Merah ) di sana, dan ketiga anak beliau adalah warganegara Malaysia, karena lahir di sana.
Orang Malaysia pertama yang saya kenal waktu itu adalah Dato' Adilah binti Shek Omar, Pengarah Sumber Daya Manusia Radio Televisyen Malaysia ( RTM ), sekarang beliau menjabat sebagai Pengarah Institut Penyiaran dan Penerangan Tun Abdur Razak ( IPPTAR ), beliaulah yang mengarahkan saya untuk masuk ke Unit Hal Ehwal Awam TV, akhirnya saya diperkenalkan dengan seorang Penerbit ( Producer ) Encik Abdul Aziz bin Mohamad, yang akan menjadi pembimbing saya di bidang Produksi Film Dokumenter.
Karena pertama kali datang ke Malaysia, saya kumpulkan duit receh ( Syiling ) untuk naik bis kota dan kereta api listrik ( LRT ) di Kuala Lumpur dikala ada waktu luang, tujuan saya supaya cepat menghafal Kuala Lumpur, setiap jalan yang saya lalui saya hafal dan saya sesuaikan dengan peta yg saya bawa, hehehehe ... alhamdulillah dalam waktu satu bulan saya bisa hafal 60% wilayah Kuala Lumpur tanpa ditemani siapapun.
Encik Aziz begitu saya panggil nama pembimbing saya, cukup perhatian kepada saya, beliaupun tak segan segan mengenalkan saya dengan rekan RTM beliau walaupun saya masih dipandang anak kecil. Setdikit banyaknya tentu ada rasa kurang hati saya atas beberapa pertanyaan rekan beliau mengenai Indonesia, tapi sejak itu saya mulai intropeksi diri dan memandang Indonesia dari luar.
Banyak kelemahan Indonesia yang saya lihat, padahal saya baru berada di negara tetangga entah bagaimana pula sekiranya saya berada di negara maju. rasa nasionalisme yg merupakan jiwa bangsa mulai tersentuh dan berperang dengan akal sehat saya.
Pertanyaan pertama yang harus saya jawab adalah, Kenapa bangsa saya dipandang rendah. baik dari aspek politik dan sosial. saya berkesimpulan ada beberapa segi yang membuat mereka berpandangan seperti itu :
( to be continued )
Awalnya saya tertarik ke Malaysia bukan karena alasan PKL, akan tetapi saya ingin melihat dunia di luar Indonesia, saya baru mampu pergi ke negara jiran kebetulan ada sepupu ibu disana. Mulailah saya menyurati Radio Televisyen Malaysia, waktu itu masih memakai jasa Pos Indonesia, dan surat balasan dari Malaysiapun sampai ke Biro Akademik Fakultas Sosial Politik, saya meminta rekomendasi kepada pak Ngurah kebetulan waktu itu yang menjabat direktur D III Komunikasi UGM, kemudian minta tanda tangan pak Yahya Muhaimin, beliau adalah Dekan FISIP UGM waktu itu.
Setiba di Kuala Lumpur dimana saya hanya dapat Student Visa 3 bulan, saya mula mula berkunjung ke rumah sepupu ibu saya, Almarhumah Miharnawati saya panggil beliau etek ( bibi ), meninggal akibat kanker payudara dan di makamkan di Wangsa Maju, Kuala Lumpur, beliau dan suami beliau masih warganegara Indonesia waktu itu masih berstatus penduduk tetap ( IC Merah ) di sana, dan ketiga anak beliau adalah warganegara Malaysia, karena lahir di sana.
Orang Malaysia pertama yang saya kenal waktu itu adalah Dato' Adilah binti Shek Omar, Pengarah Sumber Daya Manusia Radio Televisyen Malaysia ( RTM ), sekarang beliau menjabat sebagai Pengarah Institut Penyiaran dan Penerangan Tun Abdur Razak ( IPPTAR ), beliaulah yang mengarahkan saya untuk masuk ke Unit Hal Ehwal Awam TV, akhirnya saya diperkenalkan dengan seorang Penerbit ( Producer ) Encik Abdul Aziz bin Mohamad, yang akan menjadi pembimbing saya di bidang Produksi Film Dokumenter.
Karena pertama kali datang ke Malaysia, saya kumpulkan duit receh ( Syiling ) untuk naik bis kota dan kereta api listrik ( LRT ) di Kuala Lumpur dikala ada waktu luang, tujuan saya supaya cepat menghafal Kuala Lumpur, setiap jalan yang saya lalui saya hafal dan saya sesuaikan dengan peta yg saya bawa, hehehehe ... alhamdulillah dalam waktu satu bulan saya bisa hafal 60% wilayah Kuala Lumpur tanpa ditemani siapapun.
Encik Aziz begitu saya panggil nama pembimbing saya, cukup perhatian kepada saya, beliaupun tak segan segan mengenalkan saya dengan rekan RTM beliau walaupun saya masih dipandang anak kecil. Setdikit banyaknya tentu ada rasa kurang hati saya atas beberapa pertanyaan rekan beliau mengenai Indonesia, tapi sejak itu saya mulai intropeksi diri dan memandang Indonesia dari luar.
Banyak kelemahan Indonesia yang saya lihat, padahal saya baru berada di negara tetangga entah bagaimana pula sekiranya saya berada di negara maju. rasa nasionalisme yg merupakan jiwa bangsa mulai tersentuh dan berperang dengan akal sehat saya.
Pertanyaan pertama yang harus saya jawab adalah, Kenapa bangsa saya dipandang rendah. baik dari aspek politik dan sosial. saya berkesimpulan ada beberapa segi yang membuat mereka berpandangan seperti itu :
- Terlalu banyak rakyat Indonesia yang datang ke Malaysia hanya sekedar mencari nafkah sebagai pekerja kasar.
- Banyaknya kriminal diberitakan di media Malaysia karena ulah rakyat Indonesia di sana.
- Kurangnya orang kaya Indonesia yang berinvestasi di Malaysia sehingga kurang terlihat buah tangan bangsa Indonesia di sana dibandingkan negara asing lainnya.
- Media Malaysia dikontrol Kerajaan sehingga tidak semua pemberitaan dari Indonesia dapat masuk ke Malaysia.
- Kalau dibandingkan jumlah perantau, Malaysia jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia, sehingga muncullah persepsi sepihak mengenai Indonesia, terlebih lagi hal yang negatif.
- Pandangan yang subyektif dari aspek psykologis bangsa Melayu itu sendiri.
- Pola sosial, budaya dan cara hidup masyarakat yang tidak sama antara Malaysia dan Indonesia. sebab level Middle Class adalah populasi yang terbanyak di Malaysia, tak banyak orang kaya ataupun orang miskin disana, boleh dikatakan kehidupan rakyat Malaysia merata. Sebaliknya Indonesia Middle Classnya populasinya sedikit sekali dibandingkan High Class dan Lower Class, dimana ketimpangan sosial, budaya dan ekonomi terlihat sekali perbedaannya.
( to be continued )
3 komentar:
hahaha menariklah penulisan saudara, saya rakyat malaysia. :D penulisan yang baik.
modal cuma sedikit, namun hasil tiap hari dan yang lebih utama kita dapat ilmu yang sangat luar biasa dan tak ternilai, kerja cuma copy dan paste doang, mau tau apa? silahkan kunjungi dan baca dulu aja ga usah banyak comentar kalau udah baca aku tunggu komentarnya di 081332599845 silahkan visit ke http://kerjacopypaste-syarifah.blogspot.com
Saya sagat berterima kasi atas
Bantuan KI RUSLAN SALEH kemarin
Saya dikasi nmr 4d & 6d dan saya mendapat kan hasil togel (457 juta)karna bantuanya saya bisah bayar hutan dan buka usaha kecil kecilan,jika anda mau di bantu seperti saya silahkam hbg
(AKI RUSLAN SALEH ) DI NMR
( 0852=8584=7477 )
atau [klik] AHLI PESUGIHAN TANPA TUMBAL
KEAMPUHAN RITUAL AKI RUSLAN SALEH
1.Penarikan Dana Hibah Melalui Bank Ghaib
2.Penarikan Uang Melalui Mustika
3.Ritual Angka Tembus Togel/Lotrey
4.Jimat Pelaris Usaha DLL
Dan Masih Banyak Lagi, AKI RUSLAN SALEH Banyah Dikenal Oleh Kalangan Pejabat, Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia. Untuk yg punya rum terimakasih atas tumpangannya.
Posting Komentar