Cerita Di Kantin RTM

Satu hari encik Aziz memanggil saya " Anto, jom pergi minum, rehatlah dulu kita pergi kantin jap". kamipun segera ke kantin. di sana saya dikenalkan dengan rekan rekan beliau yang lainnya, antara yang ikut satu meja dengan saya adalah encik Tengku Idris Tengku Din ( Penerbit HEA TV ), encik Nasir Omar ( Senior Editor TV ), encik Aziz dan saya sendiri. Dan encik Nasir setahun kemudian menjadi abang angkat saya di Kuala Lumpur
Kami bercerita panjang lebar sambil gelak tawa dari cerita tempat kerja hingga Indonesia. Selama perbincangan di meja makan tidak ada satupun pandangan negatif terhadap diri saya, saya sendiri merasa dihargai karena jauh datang ke Kuala Lumpur sekedar praktek lapangan, kesungguhan saya membuat mereka takjub dan bertanya tanya, sebab waktu itu sayalah orang pertama yang melakukan Practical Training di RTM, yang lainnya cuma warga negara Malaysia dari berbagai kampus se-Malaysia.
Saya masih ingat Encik Nasir pernah bertanya apa yang membuat saya memilih RTM buat tempat praktek lapangan. Bagi saya untuk mendapatkan informasi yang lebih tentang negara orang baik itu di Bidang pertelevisian ataupun segi kemasyarakatan tak salah rasanya saya memilih institusi kerajaan ( pemerintahan ) sebab dari situlah saya dapat mengenal Malaysia lebih dekat apalagi tempat saya praktek berada di bawah departemen penerangan Malaysia. Yang membuat saya suka waktu diskusi berempat dalam satu meja, mereka cukup open minded, sebagai warganegara yang baik, sudah tentu saya banggakan apa yang pernah saya alami di negara saya. kebetulan alat alat RTM waktu itu masih mono, sementara TVRI sudah stereo. kita semua menghargai keterbukaan pandangan, walaupun saya lebih kecil, mereka dapat menilai cara berfikir dan keberanian saya datang ke Malaysia.

encik Nasir " Anto, kamu disini tinggal di mana, ada saudara di sini kah "
saya " di rumah encik Aziz encik, di Kelana Jaya, ada saudara saya di sini,  mereka tinggal di Taman Melati, Setapak.
encik Nasir " Kenapa tinggal di rumah dia ( encik Aziz ), apakah mereka sudah tau kamu mau tinggal di rumah encik Aziz "
encik Aziz " Kalau dia tinggal di rumah saudaranya pengalaman apa yang dia dapat, sementara masa dia di KL tidak lama, kalau dirumah aku kami hari hari boleh bincangkan bab dokumentari. at least dia tak rugi datang sini "
encik Nasir " Pelik kamu ni Anto, kamu lebih memilih dia ( encik Aziz ) daripada saudara kamu, aku respek pada kamu, cara kamu jarang orang buat di sini, kamu berani dan bersungguh sungguh "

Tutur bahasa orang Malaysia yang lembut dan bersahabat, memukau saya, tidak mudah untuk menumpang di rumah orang tempatan di sana, sebab kita baru kenal, saya sendiri bukan siapa siapa bagi mereka. Ketulusan dan kepercayaan yang diberikan encik Aziz pada saya sangat menghibur saya. saya menaruh hormat tak lebih seperti bapak kandung sendiri, ketulusan dan keikhlasan beliau membuat saya dapat berinteraksi dengan mudah dengan rekan rekan se RTM, beliau juga menyuruh anak anak beliau menghormati saya sebagai abang sendiri. 

( to be continued )

Pengalaman Pertama Ke Malaysia

Tahun 1999 sekitar bulan Februari, Saat itu saya masih semester VII, saya termasuk mahasiswa yang lalai kuliah karena sebagian teman saya sudah pada lulus dan menyandang gelar Ahli Madya Komunikasi ( A.Md ), hanya tinggal beberapa orang saja yang harus membuat Tugas Akhir tentunya harus melewati Praktek Kerja Lapangan ( Practical Training ) setelah itu sayapun akan menamatkan kuliah saya di Diploma III Komunikasi UGM.
Awalnya saya tertarik ke Malaysia bukan karena alasan PKL, akan tetapi saya ingin melihat dunia di luar Indonesia, saya baru mampu pergi ke negara jiran kebetulan ada sepupu ibu disana. Mulailah saya menyurati Radio Televisyen Malaysia, waktu itu masih memakai jasa Pos Indonesia, dan surat balasan dari Malaysiapun sampai ke Biro Akademik Fakultas Sosial Politik, saya meminta rekomendasi kepada pak Ngurah kebetulan waktu itu yang menjabat direktur D III Komunikasi UGM, kemudian minta tanda tangan pak Yahya Muhaimin, beliau adalah Dekan FISIP UGM waktu itu.
Setiba di Kuala Lumpur dimana saya hanya dapat Student Visa 3 bulan, saya mula mula berkunjung ke rumah sepupu ibu saya, Almarhumah Miharnawati saya panggil beliau etek ( bibi ), meninggal akibat kanker payudara dan di makamkan di Wangsa Maju, Kuala Lumpur, beliau dan suami beliau masih warganegara Indonesia waktu itu masih berstatus penduduk tetap ( IC Merah ) di sana, dan ketiga anak beliau adalah warganegara Malaysia, karena lahir di sana.
Orang Malaysia pertama yang saya kenal waktu itu adalah Dato' Adilah binti Shek Omar, Pengarah Sumber Daya Manusia Radio Televisyen Malaysia ( RTM ), sekarang beliau menjabat sebagai Pengarah Institut Penyiaran dan Penerangan Tun Abdur Razak ( IPPTAR ), beliaulah yang mengarahkan saya untuk masuk ke Unit Hal Ehwal Awam TV, akhirnya saya diperkenalkan dengan seorang Penerbit ( Producer ) Encik Abdul Aziz bin Mohamad, yang akan menjadi pembimbing saya di bidang Produksi Film Dokumenter.
Karena pertama kali datang ke Malaysia, saya kumpulkan duit receh ( Syiling ) untuk naik bis kota dan kereta api listrik ( LRT ) di Kuala Lumpur dikala ada waktu luang, tujuan saya supaya cepat menghafal Kuala Lumpur, setiap jalan yang saya lalui saya hafal dan saya sesuaikan dengan peta yg saya bawa, hehehehe ... alhamdulillah dalam waktu satu bulan saya bisa hafal 60% wilayah Kuala Lumpur tanpa ditemani siapapun.
Encik Aziz begitu saya panggil nama pembimbing saya, cukup perhatian kepada saya, beliaupun tak segan segan mengenalkan saya dengan rekan RTM beliau walaupun saya masih dipandang anak kecil. Setdikit banyaknya tentu ada rasa kurang hati saya atas beberapa pertanyaan rekan beliau mengenai Indonesia, tapi sejak itu saya mulai intropeksi diri dan memandang Indonesia dari luar.
Banyak kelemahan Indonesia yang saya lihat, padahal saya baru berada di negara tetangga entah bagaimana pula sekiranya saya berada di negara maju. rasa nasionalisme yg merupakan jiwa bangsa mulai tersentuh dan berperang dengan akal sehat saya.
Pertanyaan pertama yang harus saya jawab adalah, Kenapa bangsa saya dipandang rendah. baik dari aspek politik dan sosial. saya berkesimpulan ada beberapa segi yang membuat mereka berpandangan seperti itu :
  1. Terlalu banyak rakyat Indonesia yang datang ke Malaysia hanya sekedar mencari nafkah sebagai pekerja kasar.
  2. Banyaknya kriminal diberitakan di media Malaysia karena ulah rakyat Indonesia di sana.
  3. Kurangnya orang kaya Indonesia yang berinvestasi di Malaysia sehingga kurang terlihat buah tangan bangsa Indonesia di sana dibandingkan negara asing lainnya.
  4. Media Malaysia dikontrol Kerajaan sehingga tidak semua pemberitaan dari Indonesia dapat masuk ke Malaysia.
  5. Kalau dibandingkan jumlah perantau, Malaysia jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia, sehingga muncullah persepsi sepihak mengenai Indonesia, terlebih lagi hal yang negatif.
  6. Pandangan yang subyektif dari aspek psykologis bangsa Melayu itu sendiri.
  7. Pola sosial, budaya dan cara hidup masyarakat yang tidak sama antara Malaysia dan Indonesia. sebab level Middle Class adalah populasi yang terbanyak di Malaysia, tak banyak orang kaya ataupun orang miskin disana, boleh dikatakan kehidupan rakyat Malaysia merata. Sebaliknya Indonesia Middle Classnya populasinya sedikit sekali dibandingkan High Class dan Lower Class, dimana ketimpangan sosial, budaya dan ekonomi terlihat sekali perbedaannya.
Bagaimanapun Indonesia negara saya, sedikit banyaknya tentu ada bantahan dan penjelasan saya pada mereka prihal kehidupan di negara saya. Terlepas dari itu semua saya mulai menyadari, bahwa saya masih subyektif dalam bersikap. dalam pepatah Melayu " Gara gara nila setitik dapat merusak susu sebelanga "alangkah bodohnya saya, kalau saya bersikap kurang dewasa. sebab bukan dimana mana, di Indonesia sendiri juga terjadi deskriminasi antara suku, agama kadang kita tidak menyadari, kita sendiri menilai bangsa atau suku lain terlalu rendah di negara sendiri, apatah lagi saat itu kita berada di negara orang yangmana mereka belum tentu pernah bertandang ke negara kita dan melihat sendiri bagaimana perkembangan rakyatnya. Indonesia yang populasinya sekitar 240.000.000 orang terlalu naif sekali kalau disebut negara yang bermasalah, saya tidak akan menafikan sedikit banyaknya tentu ada, tidak semua baik mesti ada yang buruknya, begitu juga sebaliknya dengan rakyat Malaysia. Apalagi bangsa ini serumpun dan masih bertalian darah, saya yakin sifat kedua bangsa Melayu ini tidak jauh berbeda. cuma peradabanlah yang membuat kita berbeda.

( to be continued )

Followers